Tampilkan postingan dengan label Tulisan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan kecil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Menerima dan Menguji Keterbatasan Kita


Bagaimana mengatasi keterbatasan-keterbatasan kita adalah sesuatu yang sungguh-sungguh menjadi keprihatinan tiap orang yang menceburkan diri dalam usaha membawa damai. Menerima dan menguji keterbatasan kita merupakan suatu cara inti dalam mengatasi segala keterbatasan dalam diri kita. Pertama-tama perlulah kita menentukan prioritas, mana permasalahan yang lebih kompleks yang harus kita selesaikan. Kita tak perlu merasa bersalah  bahwa kita telah menolak untuk memperbaiki yang lain karena ada keputusan yang telah kita ambil yang merupakan bentuk penerimaan keterbatasan kita. Yang kedua ialah mendorong orang yang telah menangani hal-hal yang tidak dapat kita tangani. Perlulah kita meneguhkan mereka yang mengambil risiko dengan berbuat baik. Berdoa merupakan salah satu bentuk dukungan itu. Dengan berdoa kita menjadi sadar bahwa kita adalah alat Roh Kudus semata dalam menjalankan suatu perbuatan baik. Kita memang memiliki peranan dalam apa yang kita jalankan, namun toh itu semua dapat terus berlangsung karena kerja Roh Allah. Yang ketiga ialah mengakui keberdoasaan kita atas apa yang tidak kita perbuat. Dengan begitu kita dapat berjuang kembali atas kegagalan kita dan mampu bangkit, tidak terus berada dalam keterpurukan.

Dalam menguji keterbatasan kita, perlulah kita mengibaratkan diri menjadi “setiap orang”. Ya, dengan begitu kita lebih mudah memahami orang lain, sebab kita telah membawa tiap-tiap hati. Keberanian berarti kebebasan dari segala rasa takut lahiriah. Cara untuk menjadi berani bagi Gandhi hanya bila kita sudah melepaskan diri kita dari hasrat-hasrat pribadi dan menyerahkan diri kepada Allah, barulah kita dapat berkata, berani dan bebas.
Bagi Gandhi, kaul atau yang dapat kita sebut prasetia dapat mengalahkan hasrat tertentu dan mengadakan perlawanan terhadap ketidakadilan. Prasetia tidak membatasi kebebasan, tetapi menjadikan kebebasan itu mungkin. Daya prasetia yang mampu mengalahkan kelemahan dikarenakan oleh penyerbuan dan pengerahan pribadi orang seluruhnya oleh prasetia itu.
Ada tiga hal penting yang perlu kita garis bawahi dalam mengatasi segala keterbatasan yang ada dalam diri kita. Yang pertama ialah mau bangkit ketika jatuh. Iman kita akan Yesus Kristus semestinya selalu mengingatakan kitaakan kejatuhanNya karena beratnya salib dan bangkit kembali untuk meneruskan perjalanan. Kejatuhan yanhg biasa dialami kita manusia ialah kejatuhan mental. Bila kita mengalami sesuatu yang dampaknya cukup mengena di hati kita, maka biasanya ada sedikit timbul rasa takut, khawatir, atau mungkin trauma bila menghadapi peristiwa semacam itu lagi. Aku pun pernah mengalami suatu kejatuhan. Ketika itu banyak sekali tugas dari sekolah yang harus kukerjakan. Timbullah rasa frustasi dan  khawatir bilamana tugas ini tak dapat terselesaikan semuanya. Kemudian mencuatlah berbagai solusi dari pikiranku yang menurutku itu melanggar peraturan yaitu dengan mengerjakan tugas di warnet tanpa izin dari pamong seminari agar tak ada batasan waktu ketika aku mengerjakan tugas tersebut. Setelah berpikir cukup lama dengan pikiran yang agak cukup sehat daripada sebelumnya, aku memutuskan untuk berkata tidak untuk perbuatan itu. Kurasa aku yang tak bisa memanajemen waktu, jangan malah mempersalahkan peraturan. Maka, siang itu aku terpaksa tidak tidur untuk menyelesaikan tugas tersebut hingga akhirnya ada kepuasan setelah tugas itu terselesaikan.
Hal penting kedua ialah mau hadir dalam hati tiap orang. Mengapa hal ini begitu penting? Sebab hal ini mempengaruhi apa yang terlihat dan tak terlihat dari kita sendiri. Orang lain lebih mudah dalam menilai baik atau tidaknya diri kita. Dengan hadir dalam hati tiap orang, berati kita mencoba beradaptasi dengan orang lain sehingga akhirnya kita lebih mudah diterima oleh orang lain. Bukannya kita bersikap munafik, namun diterima dalam artian ini merupakan penerimaan kita karena kita mampu mengerti orang lain. Aku sebagai remaja merupakan sosok yang sulit mengerti orang lain dan hanya ingin dimengerti. Maka, persoalan pelik semacam ini mampu menghancurkan sebuah relasi yang nantinya akan mengakar kepada banyak hal yang lebih kompleks dari sekedar hubungan persaudaraan. Di seminari, aku hidup bersama orang lain yang memiliki berbagai karakteristik. Di sini kita dituntut untuk mau dan mampu mengerti yang berbeda itu. Jika tak ada pengertian, berati menunjukkan bahwa diri kita adalah pribadi yang hidupnya kurang sederhana dan tidak mau menerima keterbatasan orang lain dan diri sendiri.
Penyerahan diri kepada Allah merupakan hal penting ketiga yang perlu kita garis bawahi. Walaupun secara urutan, hal ini disebutkan terakhir bukan berarti menjadi kurang penting malah menjadi hal yang paling penting dan utama dalam menerima dan menguji keterbatasan kita. Bila kita telah menyerahkan diri kepada Allah, maka kita telah melepaskan diri kita dari hasrat-hasrat pribadi dan akhirnya kita menjadi berani untuk menyerahkan diri dan mempertaruhkan hidup. Aku pribadi belum mampu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah setiap waktu. Biasanya aku baru mampu berserah kepada Allah ketika aku menghadapi suatu  rintangan dan aku merasakan bahwa aku tak mampu menghadapinya sendirian. Aku tetap berupaya untuk menghadapi rintangan itu walau tidak sepenuhnya. Dan aku berserah kepada Allah dalam bentuk doa. Bagaimana hasilnya nanti, biarlah Allah memilih yang terbaik bagiku.      

Kamis, 22 Maret 2012

Nasionalisme Macam Apa Bangsa Kita ini?


Nasionalisme sebagai paham atau kesadaran kebangsaan merupakan kesadaran akan identitas kebangsaan yang menempatkan suatu kelompok masyarakat sebagai yang berbeda dan unik dari kelompok masyarakat lainnya. Sebagai kesadaran sebagai bangsa Indonesia, nasionalisme Indonesia muncul dalam konteks kesadaran akan penderitaan akibat penjajahan bangsa kolonial dan imperialis Belanda. Lalu bagaimana dengan nasionalisme bangsa Indonesia kini? Masih segarkah atau malah luntur seiring perkembangan zaman? Mari kita ulas.
Nasionalisme suatu bangsa dapat diukur dari keadaan bangsa masyarakat itu sendiri. Maka, cerminan langsung suatu bangsa tidak lain ialah dari kondisi pemerintahannya. Kini, begitu marak pemberitaan di berbagai media mengenai korupsi para pejabat pemerintahan. Entah itu dalam bentuk suap, penyelewengan maupun penggelapan dana. Ya, dana itu tentunya berasal dari berbagai penarikan pajak dari rakyat. Betapa tak bertanggungjawabnya para oknum ini bukan yang telah mengkhianati rakyatnya?
Kelakuan para pelajar pun tak jauh berbeda. Masih maraknya tawuran antarpelajar merupakan bukti ketidakarifan budi mereka sebagai pelajar. Namanya saja pelajar. Tugasnya ya belajar. Maka, bila ada kegiatan negatif yang mereka lakukan merupakan pertanda bahwa mereka belum melakukan kewajibannya sebagai pelajar dengan baik. Barangkali kegiatan negatif tersebut merupakan akibat kekurang mampuan mereka dalam mengolah rasa dan emosi, sehingga bukan belajar atau berusaha menjadi kebanggaan Indonesia, malah menjadi sampah masyarakat yang serba anarkis. Begitu pula dengan masyarakat pada umumnya. Intoleransi merupakan kunci dari pluralisme. Maka, bila sikap toleran tidak dijunjung tinggi, suatu masyarakat dapat terprovokasi dengan mudah dan mudah pula timbul aksi kekerasan sebagai reaksi balasan.
Lalu, sebenarnya apa sih yang menyebabkan nasionalisme pada setiap insan semakin luntur? Seharusnya kita menyadari bahwa kita merupakan bagian dari bangsa yang plural. Maka, berbedalah nasionalisme kita dengan bangsa negara lain, sebab pluralisme merupakan representasi atas nasionalisme kita ini. Sudah sepantasnya dan seharusnya kita mulai membangun rasa toleran tersebut. Tidak bisa dipungkiri pula bahwa banyak dari antara kita kurang mampu menghadapi pekembangan zaman yang kian cepat. Ketidakmampuan itu menjadikan kita sebagai budak media dan mudah ‘meneladani’ hal-hal negatif bukannya yang positif. Sehingga kian lama kebanggaan terhadap negeri cuma angin lalu saja. Dan nasionalisme cuma akan bangkit bila ada ancaman dari luar yang terekspos secara jelas, misalnya kasus Malaysia yang mengklaim berbagai kebudayaan kita. Alias nasionalisme sementara.
Lalu, siapa sih tokoh bangsa Indonesia era ini yang memiliki jiwa nasionalisme yang kuat? Menurut saya, tokoh bangsa Indonesia yang telah banyak andil terutama dalam hal nasionalisme ialah Gus Dur.  Mengapa Gus Dur? Memang pada masa pemerintahan seseorang yang memiliki nama lengkap Abdurrahman Wahid ini terdapat banyak kontroversi. Misalnya memperbolehkan pengibaran bendera bintang kejora di Papua Barat dengan persyaratan tinggi tiang pengibaran tidak boleh melebihi bendera merah putih. Namun, cobalah kita melihat dan menelisik tindakannya itu dari sudut pandang berbeda. Ya, yang beliau inginkan hanyalah persatuan! Persatuan, hal itulah yang paling esensial bagi bangsa plural macam kita ini. Maka, perwujudan nasionalisme kita itu ya Pancasila sebagai pemersatu bangsa. Setelah kita punya rasa persatuan tersebut, hal-hal lainnya akan semakin mudah kita laksanakan. 

Senin, 17 Mei 2010

Gampang-Gampang Susahnya Sebuah Relasi


-->
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari kata relasi ialah hubungan, perhubungan, serta pertalian dengan orang lain. Relasi mempunyai makna yang lebih luas. Suatu relasi ialah hubungan antara pihak yang satu dengan yang lain yang telah memasuki dunia satu sama lain. Kita memang tidak bias disebut pulau yang mengasingkan diri sendiri, tetapi kita masing-masing dapat dibandingkan dengan sebuah jazirah yang jauh menjorok dari daratan luas lainnya.
Dasar dari sebuah relasi ialah komunikasi. Jika kita mengawalinya dengan komunikasi yang baik, maka relasi tersebut akan bertumbuh menjadi sedemikian baik pula. Semua orang dilahirkan dengan hak-hak yang sama, termasuk hak untuk bebas dan merdeka. Maka kita pun harus memperlaukan sesame sebagai pribadi yang merdeka pula dengan cara memandangnya dari sisi kacamata manusiawi serta menaruhnya dalam jajaran subyek pada pikiran kita. Sehingga sebuah relasi dapat berlangsung secara seimbang dan kondusif, bukannya timpang.
Di Seminari, kita bukan hanya bergaul dengan sesame seminaris, melainkan juga dengan para staf. Ibu-ibu yang seharian berkutat di dapur, bapak-bapak yang setia menerima tamu di ruang rektorat, satpam yang suka berkeliling dari unit yang satu ke unit yang lain, para pamong, serta romo-romo, kami menganggap mereka semua layaknya anggota keluarga pula. Mereka bagaikan kakak dan orangtua yang senantiasa membimbing dan membantu kami dalam proses panggilan. Tentu cara ‘bergaul’ dan berkomunikasi dengan mereka berbeda dengan seminaris lain. Ada tiga unsur penting yang harus dibangun dalam relasi dengan para staf yang tentu saja makin mendukung proses panggilan kita.
Unsur pertama ialah keterbukaan. Kita harus saling terbuka agar dapat memasuki dunia satu sama lain. Dalam relasi, pihak-pihak ini selalu mencoba mengatasi berbagai perbedaan diantara mereka. Keterbukaan berarti benar-benar menerima pihak lain tampil berkepribadian sendiri.
Rasa hormat ialah unsur yang sama pentingnya dengan keterbukaan. Kita berhak dihargai dan dihormati sejauh kita juga menghargai dan menghormati orang lain. Rasa hormat akan timbul bila diterapkan dua arah. Jika kita tidak menghormati diri kita sendiri, tidak mungkinlah kita menaruh hormat terhadap kasih sayang orang lain kepada kita.
Kerendahan hati mempunyai makna yang hampir sama dengan rasa hormat. Dengan sikap rendah hati, kita mudah menganggap orang lain lebih utama daripad kita sendiri. Terlebih sebagai calon imam, kita akan mampu menguasai keangkuhan dan kesombongan diri dan makin mendekatkan kita dengan Allah.
Sebagai komunitas yang tinggal di satu atap, kita diuntungkan oleh berbagai faktor. Relasi antar seminaris makin erat hubungannya. Keeratan hubungan akan menghasilkan sikap saling dukung dan tidak menjatuhkan, bukannya malah mendukung dalam tindakan dan niat yang buruk, namun saling mendukung cita-cita hidup untuk menjadi imam. Dengan tujuan dan niat awal yang sama, yaitu menjadi gembala, makin mudah pula kita untuk saling memahami dan mendukung keterwujudan niat awal yang dahulu pernah kita bawa ke sini.
Layaknya seorang lelaki yang menginjak masa remaja, adalah wajar bila kita juga bergaul dengan wanita. Seminari yang menganut sistem pendidikan terbuka bagi para seminaris makin memperkaya pergaulan kita. Relasi dengan siswa-siswi Gonzaga menambah wadah tempat kita tidak pernah merasa sendirian. Selain menambah wawasan, bergaul dengan remaja pada umumnya akan membuat kita sadar dan merasa berkepentingan untuk memperbaiki keadaan yang dirasa kurang berkenan.
Dalam pergaulan dengan siswa-siswi Gonzaga, kita perlu menunjukkan citra sebagai seorang calon imam yang lebih dewasa, bersahaja, dan lebih mendalam.
Dapat dikatakan bahwa membangun sebuah relasi itu gampang-gampang susah. Apalagi bagi kita yang dituntut untuk memimpin kawanan domba yang beriringan di padang pasir nan luas. Kunci yang diperlukan dalam membangun sebuah relasi hanyalah keinginan untuk mengerti, menghidupkan, dan menjalankan relasi itu.